UNWRITINGOFREAK SP. : Spesies Mutu Rendah yang Harus Segera Dibasmi


Sepuluh adalah tanggal yang sangat membahagiakan bagi Si Maman. Setelah perjuangan dengan mengerahkan seribu strategi hemat di akhir bulan, akhirnya dia nampak dapat bernafas lebih lega. Tetapi, masih nampak sedikit guratan di dahinya. Sebuah guratan kinerja otot tak sadarnya.
 “Awal bulan dapat uang saku, tapi harus nulis juga, oh nooo...!” teriaknya dalam hati.
“Ah nyantai aja... Masih tanggal 10, dateline-nya kan tanggal 18. Dikerjakan akhir-akhirnya aja....” Bisik hatinya menenangkan.
Dan pada akhirnnya, ia baru ingat kalau ia belum mengerjakan tugas esai hingga tanggal 18. Masih untung jika ingat, alhamdulillah.
Itulah mungkin gambaran sebagian spesies etoser di Nusantara. Unwritingofreak sp., spesies etoser nusantara yang sampai detik ini masih deman panas plus komplikasi alergi ketika disuruh menulis. Mungkin sebenarnya spesies ini sudah langka, tetapi indikasi kuat masih ada di satu daerah tertentu yang tidak bisa saya sebutkan wilayahnya. Sebuah spisies mutu rendahan yang perlu segera dibasmi. Jadi, rumusan masalahnya adalah mengapa spesies ini ada? Dan bagaimana strategi jitu membasmi spesies ini?
Budaya menulis sangat erat hubungannya dengan budaya membaca. Bahkan dalam Islam, menulis adalah “kewajiban” kedua setelah perintah untuk “membaca”. Menulis berarti menyimpan apa yang telah kita baca dalam sebuah media yang bisa diakses oleh siapa saja. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 tercatat bahwa penduduk dengan usia di atas 10 tahun yang menonton TV jumlahnya 85,86% dan yang membaca surat kabar 23,46%. Selanjutnya pada tahun 2009, penduduk yang menonton TV mencapai 90,27% dan membaca surat kabar 18,94%. Terakhir pada tahun 2012 menunjukkan, penduduk yang menonton TV berjumlah 91,68% dan yang membaca surat kabar berjumlah 17,66%. Data tersebut menunjukkan budaya baca dari tahun ke tahun mengalami kemerosotan, sementara budaya menonton mengalami peningkatan.  (Kompas, 2012)
Berdasarkan data di atas dapat ditarik kesimpulan secara kasar bahwa sangatlah wajar jika pertumbuhan spesies Unwritingofreak Sp.terus terjadi karena hal tersebut berbanding lurus dengan penurunan minat baca di Nusantara. Da berdasarkan pengalaman dan observasi sederhana ternyata spesies ini juga masih ada dikalangan etoser Nusantara. Etoser yang terdiri dari sekumpulan mahasiswa “beruntung” yang dituntut benar-benar memiliki peran sebagai leader of change  seharusnya sudah lepas dari permasalahan ini. Masih banyak para etoser yang tidak paham akan penting dan kuatnya sebuah tulisan.
Islam dengan perintahmya “Iqro’” mengajarkan kepada umatnya agar haus akan segala ilmu pengetahuan dan kemudian menuliskannya agar dapat terus dikaji dari masa ke masa. Menulis memiliki peran yang sangat urgen dalam sejarah kejayaan umat Islam beberapa abad silam. Semua ulama yang menjadi arsitek peradaban dan kejayaan Islam masa lalu adalah para penulis ulung yang telah menghasilkan berbagai buah karya mereka yang sampai saat ini masih menjadi rujukan umat Islam sedunia dalam berbagai disiplin keilmuan. Bahkan, Barat yang kemajuannya hari ini telah jauh meninggalkan dunia Islam ternyata pernah mengekor pada kemajuan umat Islam masa silam.
Melihat kondisi saat ini, sangatlah mengecewakan jika para generasinya terutapa para etoser Nusantara telah lupa akan hakikat dan urgensi sebuah keterampilan menulis.  berbagai kemunduran umat Islam dewasa ini bisa dipastikan karena tradisi menulis setelah membaca yang pernah dipopulerkan oleh para ulama masa lalu telah ditinggalkan. Umat Islam malas ”membaca dan menulis”. Melalui tulisan diyakini peradaban impian akan bisa diraih. Melalui tulisan fakta mengatakan sebuah kemajuan akan bisa dicapai. Melalui tulisan jelas kebenaran akan mudah tersampaikan.
Sampai disini, kita bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan. Ia bisa menjadi senjata melawan kezaliman ketika meriam telah dihancurkan, ketika senapan dan mesiu telah tenggelam dalam lautan. Maka, adalah wajar jika di era ”Orde Baru” Soeharto yang mantan presiden kita itu begitu gencar memberangus dan mengejar-ngejar para penulis. Sebab, Soeharto meyakini kekuatan pena lebih dahsyat daripada senapan, lebih tajam daripada ujung pedang. Maka, ketika kita ”malas menulis” yang akan terjadi adalah berbagai ketimpangan dan bahkan penjajahan.
Etoser yang termasuk dalam spesies ini seharusnya mulai sadar diri dan beruapaya dengan serius untuk lepas dari golongan spesies ini. Etoser adalah negarawan muda, sekelompok mahasiswa, yang sekali lagi, “beruntung” mendapat tantangan untuk mengatasi permasalahan sosial ini. Bagaimana ia bisa mengatasi permasalah sosial jika ia sendiri tidak mampu mengatasinya sendiri dan tetap lebih nyaman dalam golongan spesies Unwritingofreak sp. Yang jelas-jelas etoser mutu rendah dan sepantasnya untuk segera dibasmi. Bukan pribadi jasad orangnya yang perlu dibasmi, tetapi pribadi perilakunyalah yang harus segera diperbaiki sehingga amanah yang telah terlanjur ditanggung ini dapat dipertanggungjawabkannya kelas di yaumul akhir. Negarawan muda belajar merawat Indonesia, say no to “Unwritingofreak sp.”, more than excellent, insyaAllah kita semua bisa. Wallahu a’alam bisshawab.

0 komentar:

Posting Komentar